· BebaskanMimpimu,Blog

Ini adalah part ke-7 dalam blog series #BebaskanMimpimu. Ikuti blog dan sosial media kami untuk part selanjutnya!

Sebelumnya, bisa cek blog part pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam dulu ya!

Pilihlah temanmu!

We are the average of the five people we spend the most time with.

- Jim Rohn

Ada yang bilang bahwa masa-masa terindah adalah masa-masa ketika kita duduk di bangku SMA - dan juga (mungkin) di bangku kuliah. Satu alasan yang pasti adalah di masa-masa itu kita bisa punya banyak waktu untuk berinteraksi dan bergaul dengan berbagai macam teman di sekitar kita. Kita pergi ke sekolah bukan cuma untuk belajar, namun untuk mencari dan menjalin pertemanan! Selepas masa SMA dan kuliah biasanya masing-masing sudah memiliki kesibukan yang beraneka macam. Hanya menulis ini saja saya sudah tersenyum kecil membayangkan betapa indahnya masa-masa itu.

But… Apakah kamu yakin semuanya indah dan membahagiakan?
Masih ingatkah kamu dengan teman yang mungkin menyakitimu, melakukan bully terhadapmu?
Masih ingatkan kamu dengan teman yang “menghisap” semua motivasimu dan memaksamu untuk hidup “mengalir seperti air” saja?

Kita semua pernah berada di tengah-tengah mereka, saya meyakininya. Berbagai macam sifat dan tingkah laku mereka, namun satu yang jelas : they are toxic people. Mereka seperti racun yang memberikan dampak negatif bagi dirimu. Mereka menghisap semua harapan masa depanmu dan menggantikannya dengan kekhawatiran dan keraguan untuk melangkah. Dalam konteks semangat kita semua mengajak teman-teman sekalian #BebaskanMimpimu, cermat memilih teman adalah langkah krusial selanjutnya. Mengacu kepada quote di atas - kalau kita berteman dengan lima orang toxic, maka kamu akan menjadi rata-rata dari kelima orang toxic tersebut. Wow.

Keep your standard : bertemanlah hanya dengan semua yang mendorongmu untuk maju, bukan sebaliknya. Langkah pertama yang harus dilakukan, tentunya adalah identifikasi siapa saja teman di sekitarmu. Apakah mereka termasuk toxic people apa bukan?
 

1. Teman yang selalu mengeluh. Selalu.

Saya pernah punya pengalaman mendapat driver mobil online yang dari awal perjalanan sampai akhir selalu mengeluh. Mulai dari mengeluh tentang kemacetan, mengeluh tentang jalan yang rusak, mengeluh tentang gaji bulanan yang sangat kecil, mengeluh tentang keluarganya. Lengkap. Dan tahukah kamu? Setelah turun dari mobilnya I feel free! Di sisi sebaliknya, saya punya teman kuliah yang selalu memberikan komentar positif - sesulit apapun kondisinya. Bergaul dengannya menjadikan hari lebih positif karena kita jadi belajar untuk menghargai apapun yang terjadi di sekitar kita.

Ada pepatah bagus menyatakan bahwa "daripada memaki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin" - mengeluh tiada berguna, memikirkan solusi atau jalan keluar jauh lebih berguna.

2. Teman dengan fixed mindset.

Hallo, fixed mindset muncul lagi :) Punya teman yang selalu merasa semuanya sudah terpatok di dalam batu - sehingga apapun yang terjadi adalah keadaan final dan tidak bisa dirubah lagi? Growth dan fixed mindset sudah kita bahas di blog sebelumnya ya.

Sebagai tambahan, bentuk lain dari seseorang dengan fixed mindset adalah selalu mencari alasan dan bahkan pembenaran untuk semua masalah dan kendala yang dihadapi. Bukannya sibuk untuk mencari cara dan jalan keluar, mereka justru sibuk untuk mencari alasan. Bergaul dan berteman dengan orang sepert ini bisa jadi akan merubah mekanisme kerja otakmu : alih-alih berpikir keras untuk mencari solusi, otakmu bisa jadi memilih untuk tertidur karena hanya memikirkan alasan.

3. Teman yang meragukan semua kapabilitas dan potensimu.

Saya punya teman yang pernah mengatakan “you aim too high!” - dan saya masih berteman dengannya sampai sekarang. Yup, benar dia termasuk dalam kategori toxic people yang harus kita jauhi - namun saya justru menggunakan keraguannya sebagai motivasi lebih untuk mencapai apa yang saya angankan.

Adapun demikian, kita harus hati-hati terhadap orang-orang seperti ini. Yang selalu menyanggah mimpi kita. Yang selalu secara tersirat mengatakan bahwa “kamu gak bisa!”. The worst case is, kita bisa jatuh sesuai dengan apa yang teman kita ini ragukan. Bisa jadi semuanya terjadi di alam bawah sadar kita - suara keraguan menjadi lebih besar dibandingkan suara optimismemu. Penuhi lingkaran pertemananmu dengan orang-orang yang percaya denganmu, yang yakin akan potensimu.

4. Teman yang mendorong adiksimu - atau hal buruk lainnya

Semua orang tahu bahwa adiksi itu buruk - bahkan segala sesuatu yang berlebihan hampir dipastikan akan buruk. Ketika kamu punya adiksi merokok dan kamu ingin lepas dari adiksi ini, teman yang baik adalah teman yang mendukung niat baik kamu tersebut - bukannya malah semakin mendorong kamu untuk jatuh lebih dalam di adiksimu. Adiksimu ditambah dengan lingkungan yang mendukung adalah rumus yang sempurna untuk keterikatan buruk yang luar biasa.

Ingatkah kamu dengan teman di tipe seperti ini? Biasanya mereka dengan sukses merubah hal-hal yang buruk menjadi hal yang cool di mata mereka. "Cowok sejati adalah cowok yang merokok". "Minum sampai mabuk itu keren" dan twist-twist lainnya yang salah - kalau secara jujur kita cermati.

Ada satu hal penting yang harus kita ingat selain mengidentifikasi orang-orang di sekitar kita : kalau kita tidak mau berteman dengan toxic people dengan empat ciri di atas, kita juga tidak boleh menjadi toxic person! Jangan terapkan standar ganda untuk hidupmu.

Jadilah seseorang yang terus menginspirasi dan memaksa semua teman di sekitarmu untuk bertumbuh - bukan sebaliknya.

PS : We want to help you to dream big and fulfill your dream!

Ikuti blog kami untuk rangkaian blog lainnya di dalam kampanye #BebaskanMimpimu. Jangan lupa ikuti media sosial kami dan spread the good news tentang pinjaman pendidikan di Indonesia!

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly