Return to site

Your Comfort Zone is... Your Enemy!

· BebaskanMimpimu,Blog

Ini adalah part ke-3 dalam blog series #BebaskanMimpimu. Ikuti blog dan sosial media kami untuk part selanjutnya!

Sebelumnya, bisa cek blog part pertama dan kedua dulu ya!

Comfort Zone.

Yang ada di bayangan saya tentang comfort zone adalah ranjang atau sofa saya di rumah, tempat sempurna untuk rebahan (dan juga tidur, of course!) sambil menonton TV atau Youtube. Well, seringkali makan snack. Lagu yang pas untuk menggambarkan momen ini adalah The Lazy Song dari Bruno Mars...

Saya yakin semua pembaca blog ini sudah paham dengan apa yang dimaksud dengan “our comfort zone”. Bukan tempat di mana kamu menjadi produktif - sama seperti saya yang hampir tidak mungkin untuk doing something productive on my bed!.Tempat di mana kamu sangat susah untuk grow personally, academically or professionally - sama seperti saya yang tidak mungkin membangun healthy lifestyle hanya dengan berbaring di ranjang saya.

Science behind “Comfort Zone

Penelitian tentang Comfort Zone bisa jadi dimulai semenjak Robert M. Yerkes dan John D. Dodson pada tahun 1908 meneliti hubungan antara stimulus yang diberikan kepada tikus dengan perilaku hingga pembentukan kebiasaan dari tikus itu sendiri. Secara singkat, mereka menemukan dan kemudian menyimpulkan bahwa dalam rangka meningkatkan performa individu, kita memerlukan suatu kondisi yang disebut relative anxiety, dimana level stress kita lebih tinggi dari biasanya. That's why produktivitas kita biasanya meningkat tajam menjelang deadline.

Lebih lanjut disebutkan bahwa sangat penting untuk mengetahui level optimum anxiety kita, mengingat terlalu banyak stress dan kekhawatiran justru berpotensi kontraproduktif terhadap diri kita.

So, the point is to live every day in a way so you find and then do something in your optimal anxiety. 

Duduk diam di rumah sambil marathon drama Korea sudah pasti tidak memberikan stress yang cocok - sedangkan mendaftar jadi volunteer di Korea Selatan dalam suatu event olahraga bisa jadi memberikan stress yang optimum untuk kamu berkembang menguasai bahasa baru. Scrolling Instagram non-stop tidak memberikan stress yang kamu butuhkan - join komunitas baru dengan orang-orang yang asing buat kamu bisa.

Then, what are our strategic steps? Bagaimana cara kita keluar dari zona nyaman kita?

First : Define your (clear) goals.

Bangun kebiasaan untuk selalu punya alasan dan reasoning yang pas untuk melakukan segala sesuatunya. Dalam case ini, a new learning experience selalu bisa menjadi alasan minimum yang pas untuk mendorongmu keluar dari zona nyaman. Dalam skala yang lebih besar, reasoning yang jauh lebih jelas dibutuhkan. Jangan sampai kita keluar dari kerjaan kita yang sudah nyaman hanya untuk "belajar sesuatu yang baru" kan?

Second : Building the right mindset that everything is doable.

We will definitely talk more about mindset on our coming blogs. Stay tuned! Mindset yang benar sudah pasti akan menemani perjuanganmu keluar dari comfort zone.

Third : Be comfortable in not being comfortable.

What? Bagaimana mungkin kita bisa menjadi nyaman di tengah suasana challenging yang seringkali tidak nyaman? Bagaimana mungkin kita bisa membiasakan diri di tengah kondisi stress dan challenging? Untungnya, seperti halnya kita bisa membentuk otot kita, kita pun bisa juga membiasakan diri kita untuk berada di dalam kondisi penuh tantangan.

  • Bergaul dan cari kesempatan untuk duduk bareng dengan various risk-takers di dalam hidup kamu. Ayah kamu yang meninggalkan kerjaan mapannya untuk berkarir menjadi pengusaha sukses. Guru di sekolah yang menggunakan uang pensiunnya untuk berinvestasi di suatu proyek siswanya. Even in the small thing, you can get a lot of valuable insight.
  • Mulai dari hal-hal yang kecil, namun bisa rutin kita lakukan. Mengikuti satu acara baru setiap minggunya. Berkenalan dengan satu murid baru dari kelas lain setiap minggu. Menyelesaikan satu buku bahasa Inggris setiap bulannya. Ada banyak inspirasi yang bisa kita tiru. Angela Duckworth, one of my favorite author, punya satu rule di dalam keluarganya : “The Hard Thing Rule”. Setiap orang di keluarganya wajib melakukan sesuatu yang “berat”. Kamu bisa baca secara lengkap di sini

Fourth : Find your support system.

Yes! Share semua pengalamanmu kepada orang-orang yang kamu percayai. Share semua keberhasilan dan juga kegagalan yang kamu alami. Saya pribadi punya dua tipe orang di dalam support system saya : tipe pertama yang mendukung saya 100% dan tipe kedua yang meragukan saya in a way so that I have to prove that they are completely wrong. Kamu yang paling tahu pribadi kamu masing-masing dan kamulah yang bisa definisikan siapakan your ideal support system.

Fifth : Just. Do. It.

Perubahan itu berat. Langkah pertama selalu menjadi langkah terberat. Dalam kondisi ini, jika anda berangkat dengan mimpi yang jelas, gambaran masa depan yang jelas, dan dukungan semua support systemmu, seharusnya langkah yang berat ini menjadi jauh lebih ringan.

Just do it dan rasakan semua pergolakan, struggle, dan semua hal baru di dalam hidupmu. Mentor saya, seorang kepala sekolah, pernah bercerita bahwa dia senang sekali kalau ada muridnya datang mengeluh bahwa hidupnya "susah" dan banyak struggle dalam meraih mimpinya. He said : "this is a good sign that you are alive and pursuing something!" Jika hidupmu aman-aman saja dan tidak “susah”, maybe you are in your really extremely beautiful comfort zone.

PS : We want to help you to dream big and fulfill your dream!

Ikuti blog kami untuk rangkaian blog lainnya di dalam kampanye #BebaskanMimpimu. Jangan lupa ikuti media sosial kami dan spread the good news tentang pinjaman pendidikan di Indonesia!

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly